
Musik Saronen merupakan kesenian musik tiup tradisional khas Madura yang memiliki akar sejarah kuat sebagai media dakwah Islam yang dikembangkan oleh Kyai Khatib Sendang (cucu Sunan Kudus). Terdiri dari sembilan instrumen yang melambangkan filosofi jumlah huruf dalam kalimat Bismillah, Saronen menggabungkan melodi alat musik tiup kayu dengan harmoni kendang, gong, dan kenong yang menghasilkan irama dinamis serta enerjik. Dahulu, musik ini digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan masyarakat di pasar, namun kini fungsinya telah berkembang menjadi elemen wajib dalam perhelatan akbar seperti ritual Karapan Sapi, kontes Sapi Sonok, hingga upacara sakral pernikahan.
Dalam setiap penampilannya, Saronen selalu berhasil menciptakan atmosfer yang "gemebyar" atau penuh keceriaan lewat tempo musiknya yang cepat dan karakter suara yang melengking tinggi, yang mencerminkan sifat terbuka serta semangat juang orang Madura. Tak sekadar hiburan, kesenian ini merupakan simbol integrasi antara nilai-nilai religius dan ekspresi budaya lokal yang tetap lestari hingga saat ini sebagai identitas bangsa. Kehadirannya dalam arak-arakan rakyat tidak hanya memeriahkan suasana, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga kearifan lokal agar tetap bergema di tengah arus modernisasi.